Novel ini menceritkan dua sosok sahabat yang sedang menjalani simulasi
pernikahan.
Awalnya Pernikahan tersebut cuma bertujuan sebagai ajang
coba-coba karena Puspita tidak percaya bahwa pernikahan dapat membuat
hidupnya bahagia.
Dengan Pernikahan ini Dia ingin mencoba merasakan
bagaimana menjadi seorang Istri.
Novel Ini memberikan Jawaban kepada setiap Perempuan yang ingin menolak menikah karna merasa sudah memiliki karier n umur yang sudah thirty-going-something but, yeaah jangan bilang tidak sebelum menjalani Pernikahan itu sendiri.
Part 1
Aku sungguh-sungguh tidak mengerti kenapa orang harus menikah,” gerutuku.
Idan tertawa. “Ibumu menanyakan calonmu lagi?”
Aku mengangguk cemberut.
“Apa jawabanmu kali ini?” godanya.
“Aku tidak menjawab. Aku langsung meninggalkan ruang makan dan masuk ke kamar.”
Idan terbahak. “Kau ini kekanak-kanakan,” katanya.
“Habis jawaban apalagi yang mesti
kuberikan, Dan? Aku sudah kehabisan alasan, kehabisan stok bohong. Dan
ibuku malah makin gencar meneror.”
Idan tersenyum . “Kau benar-benar seperti anak-anak. Kalau kau jadi ibumu, apa
kau tidak akan blingsatan kalau anakmu belum juga menikah pada usia tiga puluh
tiga?”
kau tidak akan blingsatan kalau anakmu belum juga menikah pada usia tiga puluh
tiga?”
“Aku akan sangat gembira kalau anakku tidak menikah seumur hidupnya,” komentarku.
Alis Idan terangkat. “Kenapa?”
“Pernikahan hanya memperumit hidup perempuan.”
“Pernikahan juga membuat hidup laki-laki lebih sulit.”
“Persis!” potongku. “Untuk apa menikah kalau yang kita dapat hanya kesulitan?”
“Mungkin karena kesulitan itu hanya efek sampingnya, sementara keuntungannya lebih banyak?”
“Sok tahu,” cibirku. “Kau sendiri belum menikah. Apa yang kau tahu tentang keuntungan menikah.”
“Aku sudah cukup banyak belajar, Pit. Umurku sendiri sudah tiga puluh lima, kebanyakan teman-temanku sudah berkeluarga. “
“Tapi kau tidak! Akui sajalah. Kau setuju kan kalau hidup sudah cukup pelik tanpa perlu lagi menikah?”
Idan tersenyum. “Ya, memang.”
“Lebih enak hidup seperti ini. Bebas!”
“Setuju. Tapi ingat, aku bukan sama sekali tidak mau menikah, lho. Aku hanya masih menunggu calon yang pas.”
Dan aku menghela nafas panjang. “Ah, ya. Calon.”
“Itu kan sebenarnya alasanmu untuk tidak juga menikah?”
“Ya, ” gumamku enggan.
“Bukan karena kau sama sekali anti menikah?”
Aku menggeleng. “Jangan bilang siapa-siapa, tapi kadang-kadang aku kepingin juga digandeng seseorang saat datang ke pesta.”
“Tapi kau bisa saja bergandengan dengan salah satu pacarmu kan?”
“Gandengan pacar itu lemah. Gampang putus,” komentarku pahit. “Maksudku,
aku mau orang yang sama menggandeng tanganku ke mana pun aku pergi.”
aku mau orang yang sama menggandeng tanganku ke mana pun aku pergi.”
“Apa susahnya menggaji orang yang mau menggandeng tanganmu ke mana-mana? Ini zaman susah. Banyak pengangguran.”
“Idan!” kuayunkan tanganku, tapi begitu hapalnya ia dengan reaksiku ia menghindar sambil tertawa.
“Kau sadar kan kalau menikah itu lebih dari sekadar mengontrak penggandeng tetap?” tanyanya kemudian, lebih serius.
“Ya. Justru itu. Aku tidak bisa membayangkan menikah dengan orang yang salah. Kalau saja…” aku terdiam.
“Apa?”
“Kalau saja aku bisa yakin bahwa lelaki
itu akan tetap manis dan baik hati setelah ia berhasil menikahiku.
Bagaimana seorang perempuan bisa tahu kalau lelaki yang merayunya
ternyata suami yang payah?Yang suka memukuli, mencaci maki, menghina,
orangnya pelit, cemburuan, suka berbohong dan berkhianat.”
“Pit, laki-laki yang begitu sedikit sekali.”
Aku menggeleng. “Semua laki-laki binatang.”
“Bagaimana dengan aku? Aku laki-laki.”
“Kau bukan lelaki, Dan. Kau malaikat.” Idan terbelalak. Didekapnya dada kirinya dan ia
terkulai di kursinya.
terkulai di kursinya.
“Idan!” desisku. “Nanti orang-orang memperhatikan kita!”
“Pit, kau sadar kalau aku belum mati? Aku
harus mati dulu sebelum jadi roh dan mengajukan lamaran menjadi
malaikat,” dan ia kembali terkulai, mata tertutup, lidah terjulur.
“Idan, Idan,” desahku. “Kalau kau memang mau menikah, berobatlah.”
Ia tergelak.”Dan kau. Kalau kau memang mau menikah, percayalah setidak-tidaknya pada satu orang saja dari golongan laki-laki.”
“Aku tidak bisa, Dan.”
“Berarti kau memang tidak bisa menikah. Tidak mungkin dan tidak akan. Dan
kalau kau memaksakan diri, kau akan merana. Dan kalau kau sengsara kau akan
makan makin banyak. Dan kalau kau makan banyak-banyak kau akan…”
kalau kau memaksakan diri, kau akan merana. Dan kalau kau sengsara kau akan
makan makin banyak. Dan kalau kau makan banyak-banyak kau akan…”
“Idan!” walaupun nada suaraku keras, aku
tak bisa menahan senyum mendengar pernyataan konyol itu. Setelah dua
puluh tahun menjadi sahabatku, ia benar-benar
telah memahamiku.
telah memahamiku.
“Apa kau pernah berpikir tentang ibumu?” katanya kemudian. Seperti biasa ia bisa
menjadi sangat jenaka dan kemudian serius hanya dalam selang waktu sepersekian
detik. “Ia pasti sangat ingin kau segera mendapat pasangan tetap. Ia akan lebih tenang kalau tahu kau akhirnya punya seseorang yang akan menemani dan melindungimu.”
menjadi sangat jenaka dan kemudian serius hanya dalam selang waktu sepersekian
detik. “Ia pasti sangat ingin kau segera mendapat pasangan tetap. Ia akan lebih tenang kalau tahu kau akhirnya punya seseorang yang akan menemani dan melindungimu.”
“Jangan bicara begitu,” cetusku, kembali
manyun. “Satu, ini hidupku, bukan hidup ibuku. Aku sedih kalau ibuku
sedih. Tapi kalau suamiku berkhianat, apa ibuku mau menanggung rasa
malu dan sakit hatiku? Kedua, aku tidak butuh pelindung. Kau tahu aku
bisa mengurus diriku sendiri. Kalau itu yang aku butuhkan, aku bisa
menggaji lebih banyak pembantu, plus bodyguard kalau perlu.”
“Baik, baik, Tuan Putri. Hamba mengaku
salah,” Idan membungkuk dalam-dalam. “Jadi, dengan asumsi kau tidak
sama sekali menihilkan kemungkinan menikah, apa yang ingin kau capai
dengan itu?”
Aku tertunduk lemas. “Itulah, Dan,”
desahku. “Aku tidak tahu. Apalagi yang aku butuhkan saat ini? Aku punya
pekerjaan dengan masa depan yang lumayan. Jadi menikah untuk alasan
ekonomi jelas-jelas bukan pilihan untukku. Aku punya teman-teman
diskusi, sahabat untuk berbagi, jadi kesepian juga bukan alasan bagiku
untuk menikah.”
“Bagaimana dengan keturunan?
“Anak? Apa aku harus menikah untukpunya
anak? Aku bisa mengadopsi bayi, kan? Di luar sana banyak anak-anak yang
tidak diinginkan orang tuanya. Kalau aku mau, aku bisa mengasuh satu,
dua atau bahkan tiga dari mereka. Jadi tolong, jelaskan kenapa aku
harus menikah, mempertaruhkan diriku sendiri, mengambil risiko dilukai
lahir dan atau batin. Tak ada kepastian sama sekali bahwa pernikahan itu
akan bertahan sepanjang hidupku. Disamping itu, kalau pernikahan itu
hancur di tengah jalan, aku akan jadi pihak yang paling besar
menanggung kerugian. Kenapa, Dan? Untuk apa?”
Idan termenung agak lama. Akhirnya ia menjawab. “Cinta mungkin?”
“Kau terlalu banyak menonton film romantis!” olokku. “Kau tahu berapa lama cinta bertahan dalam suatu pernikahan?”
“Berapa lama?”
“Satu sampai tiga bulan. Setelah itu, toleransi, kompromi, frustrasi dan imajinasi.”
“Imajinasi?”
“Kalau kau terjebak di dalam penjara
dengan lelaki yang kau benci sekaligus yang kau tahu membencimu, kau
harus membayangkan menikah dengan Richard Gere atau kau
bisa jadi gila.”
bisa jadi gila.”
“Astaga,” gumam Idan. “Kalau itu terjadi padaku, siapa menurutmu yang harus kubayangkan? Michelle Pfeiffer atau Nicole Kidman?”
“Gorila,” jawabku sekenanya dan Idan meledak tertawa.
“Idan,” keluhku. “Berhentilah tertawa.
Aku bukan pelawak. Aku sedang membicarakan masalah serius, dan aku
sebal kau tertawai terus menerus.”
Wajahnya serta-merta menjadi serius. “Aku
tidak menertawaimu. Kalau kau benar-benar sahabatku, kau tahu
beginilah aku menyikapi semua masalah, yang tergenting sekalipun.
Termasuk soal menikah. Cobalah. Kau akan merasa jauh lebih baik. Kalau
ibumu menanyakan calonmu sekali lagi, tertawalah.Tertawalah
keras-keras.”
“Idan, kau benar-benar tak tertolong lagi,” gumamku. “Aku perlu solusi, dan bukan ide-ide konyol.”
Idan membisu. Dan untuk beberapa waktu
kami berdua sama-sama merenung. Akhirnya, Idan bicara dengan hati-hati.
“Pit, aku tahu ini akan kedengaran gila. Tapi dengar dulu. Aku rasa
saranku ini bisa menyelesaikan kedua masalahmu. Pertama,
ketidakpercayaanmu pada ras laki-laki. Kedua, ketidakmengertianmu
kenapa kau butuh seorang suami.”
Aku mengangguk, dalam hati bersiap-siap
untuk mempertahankan mimik seriusku walaupun ide yang akan dilontarkan
Idan nantinya ternyata kelewat sinting dan karenanya teramat sangat
kocak.
“Sebelumnya, aku ingin tanya satu hal,
dan ini sangat sangat penting, jadi aku perlu jawaban terjujurmu. Apa
kau percaya kepadaku?”
Kutatap Idan dengan dahi berkerut. Ia
telah jadi sahabatku selama puluhan tahun. Banyak yang berubah dalam
hidupku, dan setidaknya enam lelaki telah hadir dan menghilang dari
hidupku. Hanya Idan yang tak berganti. Ia seakan-akan selalu siap
mengulurkan tangan menolongku, sementara sense of humor-nya tak pernah
gagal membantuku keluar dari depresi yang paling parah sekalipun. Kalau
ada satu laki-laki di dunia yang kuhadapi dengan skeptisisme nyaris
nol, hanya Idan orangnya.”Ya. Aku percaya kepadamu.”
“Kalau begitu, percayalah bahwa yang
kulakukan ini semata-mata untuk kebaikanmu. Percayalah bahwa aku sama
sekali tidak memiliki niat jahat terselubung di balik ideku ini.
Percayalah.”
“Idan! ” potongku tandas. “Ide apa?”
“Aku ingin mengajakmu mengadakan sebuah
eksperimen,” ia bicara dengan hati-hati, kedua matanya terpancang pada
ekspresi wajahku. “Kita akan melakukan pernikahan.”
“Apa?”
“Simulasi!” lanjut Idan sesegera mungkin.
“Tentu saja lengkap dengan semua formalitasnya, lamaran, akad nikah,
kalau perlu honeymoon….”
“Bulan madu?”
Idan mengangkat tangannya menyuruhku
diam, “Simulasi. Sekali lagi, simulasi. Setelah itu kita akan menjadi
suami istri simulasi sambil mempelajari kenapa kebanyakan manusia y ang
normal dan waras begitu berambisi untuk berumah tangga. Kalau pada
akhir eksperimen kau merasa yakin bahwa kerugiannya tidak sebanding
dengan keuntungannya, kita bercerai dan kau bisa hidup lajang, merdeka
selama-lamanya. Kalau ternyata kau kecanduan hidup sebagai istri, kita
bercerai dan kau bisa cari suami yang paling cocok untukmu. Anggaplah
ini sebagai tes untuk melihat apa kau akan memilih menikah atau tidak.
Tanpa komitmen, tanpa penalti. Bagaimana?”
“Idan,” desisku. “Ini ide terbodoh y ang pernah kudengar.”
“Semua gagasan jenius selalu diolok-olok
pada awalnya,” sanggah Idan mantap. “Pikirkan, Pit. Ini satu-satunya
cara supaya kita bisa belajar seperti apa pernikahan itu sebenarnya
tanpa perlu sungguh-sungguh menikah. Kau tidak mungkin melakukannya
dengan laki-laki selain aku, yang telah terbukti memiliki sifat
ksatria, dapat dipercaya dan teguh pendirian…”
“Serius, Idan, serius!”
“Dan kau sama sekali tidak melakukan pengorbanan apa pun. Kau tidak akan mengalami kerugian apa pun.”
“Kecuali jutaan yang harus keluar untuk biaya pernikahan…”
“Simulasi.” Idan mengingatkan sambil mengangkat telunjuk.
“OK. Pernikahan simulasi,” geramku. “Dan aku akan menyandang status janda setelah kita bercerai.”
“Simulasi.”
“Idan!”
“Upit!”
“Oh, Tuhan,” aku bangkit dengan marah dan beranjak keluar. Idan segera menjejeriku.
“Upit, kau tidak perlu semarah ini,”
katanya. “Apa aku sejelek itu di matamu hingga kau bahkan tidak mau pu
ra-pura menikah denganku?”
Aku berhenti berjalan dan menatap
wajahnya. Dan menggeleng. “Biarpun wajahmu seperti bunglon sekalipun,
aku akan tetap memujimu di depan perempuan malang manapun yang
mencintaimu.”
Matanya berbinar. “Kau tidak marah lagi, kan ?”
Aku menggeleng. “Aku bukan marah karena
idemu, Dan. Aku tahu otakmu memang selalu korslet tiap kali memikirkan
jalan keluar dari suatu problem serius. Aku mengerti. Aku hanya kesal
karena kau sepertinya tidak peduli dengan masalahku.”
“Justru karena aku sangat peduli aku mengusulkan ini, Pit.” Ekspresinya tampak begitu tulus.
“Terima kasih. Tapi ide itu memuakkan.”
“Pikirkan ibumu, Pit. Kalau beliau tahu
kau akan segera menikah, denganku, orang yang selama ini dikenalnya
sang at baik, sopan, hormat kepada orang tua, ulet, tangguh…,” ia
berhenti saat melihat raut wajahku, “Ibumu akan sangat bahagia, Pit.
Pikirkan juga dirimu.”
Ia diam sejenak. “Aku janji akan menggandeng tanganmu di setiap pesta. Di mana pun.”
Ucapannya begitu menyentuh hatiku hingga
aku nyaris menangis terharu. Kalau saja di antara bekas-bekas kekasihku
ada yang mengatakan itu kepadaku, aku pasti sudah lama sekali menikah,
pikirku sebelum menertawai diri sendiri. Perempuan yang tidak butuh
seorang pelindung, tapi haus digandeng tangannya. Aku pasti sama kurang
warasnya dengan Idan.
“Apa aku harus menciummu?” tanyaku nyaris berbisik.
“Sesekali mungkin, kalau orang tua kita diam-diam mengawasi,” matanya kembali tertawa.
“Di pipi. Aku tidak akan melewati batas. Kalau kita hanya berdua, kau bebas untuk meninjuku, menjambakku…”
“Idan,” teguran itu lebih lembut daripada yang kuinginkan dan Idan tersenyum.
Bersambung…
No comments:
Post a Comment